Aku hidup untukmu



Aku hidup untukmu

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah, rasanya deg – degan banget karena selama 3 hari kedepan bakal ada kegiatan MOS yang denger – denger ini adalah ajang bagi senior – senior buat ngerjain juniornya. Ketika tiba di sekolahan, aku kaget karena di lapangan sudah berjalan upacara pembukaan kegiatan MOS. Aku lirik jam tanganku, 07.00 WIB, bukannya upacara dimulai pukul 07.15. Lalu kuperhatikan lagi jam tanganku, dan ternyata benar dugaanku, jam tanganku mati. Haduh, jadi apa aku nanti??. Setelah upacara selesai, terdengar suara orang memanggil namaku.
 “Bagi yang merasa bernama Sintia Safitri diharap maju kedepan.” Aku melangkah maju dengan perasaan tak karuan.
“Dan bagi yang merasa bernama Aditya Pratama diharap maju.”
Saat aku melihat cowok yang bernama Aditya itu maju, rasanya wajahnya sudah gak asing lagi bagiku. Aku mencoba untuk mengingatnya, setelah aku perhatikan, ternyata ia adalah cowok rese yang merebut kertas karton satu - satunya di toko buku tempo hari, dan mungkin gara – gara kertas itulah sekarang aku harus berdiri di depan anak – anak seperti ini.
“Kalian tau kenapa kami memanggil kalian?” tanya kakak seniorku yang dari wajahnya bisa dikatakan lumayan ganteng.
“Tidak,” jawab kami serempak.
“Karena kalian udah telat, warna kertas kalian juga beda dari yang lain. Temen – temen enaknya mereka diapain ya?” tanya salah satu seniorku pada teman – temannya.
“Keliling lapangan sambil nyanyi lagu potong bebek angsa sama niruin gaya bebek aja.” Teriak kakak senior yang kelihatannya judes banget.
“Oke, sekarang kalian jalan jongkok mengelilingi lapangan sambil nyanyi lagu potong bebek angsa sebanyak 5 kali.” Kami langsung menjalankan perintah dari atasan yang judes itu.
Akhirnya 3 hari masa penyiksaan itu usai, kini waktunya belajar di kelas. Dengan senyuman manis aku masuk kelas, namun senyum itu berubah jadi asam saat melihat cowok itu duduk di salah satu bangku kelas baruku. Sialnya semua bangku sudah penuh, hanya tinggal satu bangku di depan meja guru, tapi aku harus duduk dengan cowok itu, oh God!! Terpaksa deh duduk di bangku itu.
“Kenalin gue Aditya Pratama, lo bisa panggil gue Adit.” Katanya saat aku meletakkan tasku disampingnya, ia menjulurkan tangannya sambil tersenyum.
“Gak usah sok manis deh.” Ucapku dengan nada tinggi.
“Emang gue diciptakan untuk memiliki wajah manis, jadi lo aja yang jangan gampang marah.” Ucapnya tanpa rasa bersalah.
“Em, kayaknya wajah lo dah familiar buatku dech,,”
“Ya iyalah, elo kan pernah ketemu sama gua pas di toko buku, trus kemaren pas MOS elo juga dihukum keliling lapangan sama gue.”
“Ow, kita dah sering ketemu tapi gue belum tahu nama lu, gak lucukan kalo kita duduk sebangku tapi gue gak tau nama lo.”
Sebenernya males banget buat kenalan sama cowok rese ini, tapi bener katanya, terpaksa deh kenalan sama dia. “Nama gue Sintia Safitri, elo bisa panggil gue Sintia.”
Baru 2 bulan sekelas sama Adit rasanya udah bĂȘte banget, gimana kalo harus sutahun sekelas sama dia, gak kebayang dech. Dia emang pinter sich, tiap kali ada jam kosong dia pasti mengajari anak – anak tentang materi yang belum mereka kuasai, ia juga sering banget berkelakuan aneh yang bisa bikin anak – anak pada ketawa dan pada semangat belajar, padahal menurutku kelakuannya itu kayak anak kecil banget. Gara – gara sikapnya itulah banyak guru dan temen – temenku yang kagum padanya, namanya melambung layaknya artis sekolah. Sedangkan aku, jarang banget ada anak yang kenal sama aku, padahal dulu waktu SMP gak ada anak yang gak kenal aku. Disini aku merasa tersingkirkan banget, mungkin itu alasan kenapa aku gak suka sama cowok yang namanya Aditya Pratama.
Suatu hari, saat jam pelajaran matematika entah kenapa kepalaku tiba – tiba terasa sakit banget.
“Sin, lo kenapa? Muka lo kok pucet banget.” Tanya Adit.
“Gue juga gak tau, tiba – tiba aja kepalaku pusing banget.” Jawabku sambil memegang kepalaku yang terasa berat.
“Gue bilangin ke bu guru ya, biar lo tiduran di UKS aja.”
“Nggak usah, udah biasa kok.” Adit lalu mengangkat tangannya. “Apaan sich lo Dit, gue bilang gak usah.”
“Ya ada apa Dit?” Tanya bu guru
“Bu saya mau izin ke kamar mandi.”
“Ya silahkan.”
Dia langsung keluar sambil menatapku dengan tatapan meledek karena berhasil ngerjain gue, dasar rese gue kira mau izinin gue. Makin hari gue merasa makin benci sama ni cowok.
Saat jam istirahat, seperti biasa aku jajan di kantin bareng sama Manda sobat karibku dari aku SD sampe SMA.
“Sin, hidung lo kok berdarah? Lo mimisan?” Tanya Manda.
“Oh ini, entah kenapa akhir – akhir ini gue sering banget mimisan.” Aku langsung mengambil sapu tangan dan mengusap darah yag keluar dari hidungku.
“Sin, lo kok jadi pucet sich, gue anter ke UKS ya.”
“Kepalaku pusing banget Man.” Manda lalu memapahku berjalan ke UKS.
Melihat kondisi kesehatanku yang tak menentu lalu sore harinya, ayah mengajakku untuk periksa ke rumah sakit.
“Apa kata pak dokter tadi yah?” Tanyaku setibanya di rumah.
“Kata pak dokter kamu harus banyak – banyak istirahat, jangan sampe kamu kecapekan, karena badanmu sedang tidak fit.” Jawab ayah, raut muka ayah menunjukkan ada sesuatu yang ganjil ketika menjawab pertanyaanku tadi.
“Ya udah kamu buruan tidur sana. Kan kata pak dokter kamu harus banyak istirahat.” Kata ibu yang hanya mengkopi ucapan ayah tadi.
“Ya deh, Tia ke kamar dulu ya yah, bu.”  Aku langsung berjalan menaiki tangga menuju ke kamarku.
Malam semakin larut, tiba – tiba saja aku merasa haus. Kuputuskan untuk memberanikan diri berjalan ke dapur yang letaknya lumayan jauh dari kamarku. Saat melewati ruang keluarga, aku melihat lampu masih menyala terang, aku juga mendengar suara orang yang sepertinya menangis. Ku coba untuk mendekat, dalam ruangan aku melihat 3 orang sedang duduk menunduk. Sepertinya itu ayah, ibu, dan kak Ranu.
“Lalu bagaimana cara mengobati penyakit Sintia, yah?” terdengar suara ibu, meskipun agak kurang jelas.
“Bu, setahu ayah penyakit yang diderita Sintia gak ada obatnya.” Jawab ayah.
“Iya bu, setahu Ranu belum ada obat untuk penyakit Leukimia.”
Aku kaget, tubuhku mendadak lemas, apakah benar yang diucapkan kakak kalo aku terkena penyakit Leukimia? Mendadak rasa hausku hilang, aku berlari menuju kamar dan menumpahkan semua rasa kecewaku. Aku menangis sejadi – jadinya, aku kecewa, kenapa harus aku yang menderita penyakit mematikan itu.
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah dengan perasaan tak karuan. Setiba di sekolah, mendadak air mata ini menetes melihat anak – anak datang dengan seulas senyum dan semangat. Melihat mereka aku teringat dengan ucapan kak Ranu semalam tentang penyakit leukimia yang aku derita yang tidak ada obatnya. Seakan aku sudah tidak punya harapan untuk hidup lagi, seakan tak ada gunanya aku sekolah kalau akhirnya aku akan meninggal. Semangatku untuk hidup dan belajar hilang begitu saja bagaikan ditelan ombak.
“Lo kenapa Sin? Mata lo kok lebam sich.” Tanya Manda menghampiriku
“Nggak papa kok.” Jawabku
“Lo jangan bohong dech Sin, kelihatan banget kok kalo lo habis nangis.”
“Nggak papa Man, dah dech lo jangan tanya – tanya.” Jawabku dengan nada tinggi.
“Lo lagi dapet ya kok sensi banget.”
“Nggak kok,” jawabku sambil berlalu.
Entah kenapa akhir –akhir ini aku jadi sering marah dengan Manda dan Adit, padahal ereka tidak punya salah padaku. Namun begitu, mereka masih saja mendekatiku dan mencoba bertanya tentang sikapku yang akhir – akhir ini berubah. Suatu hari, saat Manda bertemu dengan Adit, mereka  saling bertanya tentang sikapku yang akhir – akhir ini berubah .
“Man, lo tau gak kenapa akhir – akhir ini sikap Sintia berubah?” tanya Adit
“Gue juga gak tahu Dit. Gue aja baru mau tanya sama lo, kenapa akhir – akhir ini Sintia jadi lebih sensitive, dia jadi gampang marah.”
“Iya Man, biasanyakan kalo gue ngerjain dia, dia bales ngerjain gue, tapi akhir – akhir in kalo gue ngrjain dia, dia malah marahin gue.”
“Iya, gue juga ngerasa kayak gitu. Coba deh lo tanyain, lo kan satu kelas sama dia, jadi lo sering ketemu sama dia, kalo gue kan beda kelas.”
“Ogah, buat apa gue nanyain cewek galak kayak dia.”
“Yakan tadi elo nanya sama gue, berhubung gue gak tahu, mendingan elo tanya langsung sama yang bersangkutan aja.”
“ya, kalo lo gak tahu ya udah, dia gak penting juga buat gue.”
“Lo gak tau ya, kalo selama ini Sintia sering banget nyeritain tentang lo ke gue.”
“Ya nggak tau lah.”
“Kayaknya dia suka dech sama lo.”
“Ya gak mungkinlah dia suka sama gue. Eh, itukan Sintia, coba sana lo dekatin dia.” Kata Adit sambil mendorong Manda
Manda lalu berjalan mendekati Sintia yang sedang duduk sendiri di bangku taman sekolah.
“Hai Sin.” Sapa Manda, Sintia hanya tersenyum melihat kea rah datangnya suara
“Lo kok kelihatan pucet sich Sin, lo sakit ya?”
“Nggak kok.”
“Gue anter lo ke UKS ya,”
“Nggak usah Man, gue baik – baik aja kok.”
“Sin, kenapa sich akhir – akhir ini lo berubah, lo sekarang jadi pendiem dan gampang marah.”
“Kayaknya gue biasa aja tuh.”
“Lo lagi ada masalah ya,? cerita donk sama gue, siapa tahu aja gue bisa bantuin lo.”
“Lo gak bakalan bisa bantuin gue buat nyelesain masalah gue ini.” Jawabku sambil berlalu karena aku gak mau Manda tahu kalo aku nangis.
“Eh, Sin tunggu gue.” Teriak Manda, tapi aku tetap berlari menjauhi Manda.
Dua bulan telah berlalu, namun ibu, ayah, dan kak Ranu masih saja menutupi tentang penyakit yang aku derita. Tiap kali aku bertanya tentang kenapa tubuhku terasa lemah, mereka menjawab bahwa aku tidak apa – apa, mereka selalu bilang bahwa aku sehat – sehat saja. Akhir – akhir ini, aku merasa tidak nyaman tinggal di rumah. Tiap hari pasti ada keributan antara ibu dan ayah, entah mereka meributkan apa. Akhirnya suatu hari aku sengaja pergi dari rumah untuk mencari suasana baru, aku berjalan keluar rumah mentusuri jalan tanpa tahu arah dan tujuan. Hingga akhirnya, aku sampai di batas kota dan aku merasa tubuhku mulai lemas, hingga aku tak sadarkan diri.
Saat aku membuka mata, aku melihat seorang kakek duduk disampingku.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah sadar.” Ucap kakek itu, aku hanya tersenyum kebigungan.
“Saya dimana kek?” Tanyaku  sambil memandang ke sekeliling rumah.
“Ini gubuk saya nak. Silahkan diminum dulu.” Jawab kakek itu sambil memberikan segelas air putih padaku.
“Maaf dek, adek ini namanya siapa ya?”
“Nama saya Sintia kek. Maaf kek, saya kok bisa sampai sini, gimana ceritanya ya?”
“Tadi saya lihat adek tergeletak dijalan, lalu saya bawa saja adek ke gubuk saya ini.”
“Oh, gitu ya kek.”
“Ngomong – ngomong adek mau kemana?”
“Saya juga tidak tahu kek, saya kabur dari rumah”
“Kalo boleh tahu, kenapa adek kabur dari rumah?”
“Pengen cari suasana baru aja kek, bosen dirumah terus.”
“Ow gitu tho, gimana kalo adek untuk malam ini nginep di sini dulu?”
“Nggak usah kek.”
“Nggak papa kok, lagian inikan sudah malam.”
“Em, yaudah deh kek, untuk mala mini saya nginep sini dulu ya.”
“Iya dek.”
“Makasih ya kek, ngomong  -ngomong kakek tinggal dengan siapa di rumah ini?”
Belum sempat kakek menjawab, tiba – tiba terdengar suara dari luar rumah. Suara itu sudah tidak asing bagi telingaku, saat melihat orang itu, ternyata benar itu suara Adit. Dan ternyata kakek ini adalah ayah Adit, mereka hanya tinggal berdua dirumah ini, karena ibu Adit sudah meninggal sejak Adit masih kecil.
“Eh, Sin lo kok disini?”
“Tadi bapak lihat dia pingsan dijalan jadi bapak ajak saja dia kesini, kamu kenal sama dia?”
“Iya pak, dia teman sekelas Adit.”
“Yasudah, bapak masuk dulu ya. Bapak mau tidur.” Bapak Adit lalu berjalan masuk ke kamar.
“Jadi itu tadi bapak lo, gue kira kakek lo.”
“Eh, lo kenapa bisa pingsan dijalan?”
“Ceritanya panjang, lo dari mana aja malem – malem gini baru pulang?”
“Gue tadi habis kerja.”
“Jadi tiap hari lo kerja?”
“Ya iyalah, kalo gue gak kerja, pasti hari ini gue udah mati kelaperan.”
“Terus kapan lo belajar kalo tiap hari lo pulang malem – malem gini.”
“Gue selalu bawa buku dalam tas, jadi gue bisa belajar dimanapun gue berada. Lo istirahat aja dulu, biar besok pagi lo bisa pulang.” Adit lalu masuk kamarnya.
Akhir – akhir ini, Sintia jadi sering banget dateng ke rumah Adit. Entah kenapa ia merasa nyaman berada di rumah Adit. Gara – gara itulah sekarang aku memiliki sahabat baru, Adit. Ternyata Adit sebenarnya gak seperti yang ia lihat selama ini disekolah, ternyata ia adalah anak baik yang berbakti pada orang tuanya. Kalo dilihat – dilihat Adit memanag manis, baik, pinter, pantesan banyak cewek yang ngefans sama dia. Suatu hari, saat aku sedang bantu Adit jualan, tiba – tiba saja darah keluar dari hidungku. Lalu, ia bertanya padaku tentang apa yang terjadi , karena akhir – akhir ini ia sering banget melihat aku mimisan. Akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi pada diriku. Adit terlihat kaget setengah tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan. Adit hanya memberi semangat padaku.
“Sin, aku yakin sekarang kamu pasti kecewa banget. Tapi kita kan hanya manusia yang tidak tahu sampai kapan kita bisa bernafas, semua sudah diatur oleh Tuhan kita tinggal menjalaninya. Separah apapun penyakit kita, kita harus yakin bahwa kita punya Tuhan yang gak mungkin memberi cobaan pada umatnya melebihi dari kemampuan mereka. Tuhan memberikn cobaan seperti ini padamu, karena Tuhan sayang padamu dan Tuhan yakin bahwa kamu pasti bisa melewati cobaan ini, karena kamu kuat.” Ucap Adit, aku hanya tersenyum menengar ucapan Adit yang sangat bijak dan telah membukakan pikiranku.
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah dengan senyuman dan semangat, kini aku mulai menjalani hidupku seperti sebelum aku tahu tentang penyakitku. Di kelas, aku mencari – cari sahabatku  yang telah membuat aku kembali semangat untuk menjalani harin-hariku. Namun, hari ini tak seperti biasanya, Adit tidak masuk sekolah tanpa ada keterangan. Hingga beberapa hari ia tidak masuk sekolah. Aku mulai khawatir dengan kondisi Adit, lalu sepulang sekolah aku datang kerumah Adit untuk memastikan kenapa Adit tidak masuk sekolah beberapa hari ini. Sesampainya di rumah Adit, aku terkejut, karena ia melihat bendera kuning berkibar di depan rumah Adit. Timbul pertanyaan dihatiku tentang apa maksud pengibaran bendera kuning itu, apakah ayah Adit meninggal. Sesampainya didalam rumah, aku melihat ayah Adit duduk menangis memandang foto usang yang ia pegang. Aku lalu mendekati ayah Adit, melihat kedatanganku tangis ayah Adit semakin menjadi – jadi. Tiba – tiba saja ayah Adit memelukku dan berkata kalau Adit telah menginggal. Aku kaget, aku tidak percaya kalau Adit sudah meninggal, padahal 3 hari yang lalu aku masih bisa bercakap – cakap dengan Adit, dan ia terlihat sehat.
“Lalu kenapa Adit meninggal pak?”
“Penyakitnya kumat, tapi saat dibawa ke rumah sakit, disana ia tidak segera ditangani karena kami tidak memiliki uang.”
“Penyakit?? Memangnya Adit punya penyakit apa? Bukankah selama ini ia terlihat sehat – sehat saja.” Jawabku kaget
“Tidak nak, sebenarnya ia memiliki penyakit mematikan yang tidak ada obatnya.”
“Tapi saya tidak pernah melihatnya kesakitan, selama ini dia terlihat sehat, sehat banget malahan.”
“Saya saja juga baru tahu kemaren waktu ia dibawa ke rumah sakit.”
“Jadi bapak juga tidak tahu tentang penyakit yang diderita Adit?”
“Iya, dia pinter banget nyembunyikan ini semua. Oh ya, ini ada surat dari Adit buat kamu.” Ayah Adit memberikan surat dari Adit pada Sintia.
“Makasih pak. Em, pak apakah saya boleh ke makam Adit?”
“Tentu, mari saya antar ke makam Adit.”
Ayah Adit lalu mengantar Sintia ke makam Adit. Sesampaianya disana, ayah Adit langsung pamit pulang, ia tidak tega kalo harus lama – lama di makam Adit. Dimakam Adit, Sintia membuka surat dari Adit dan membacanya. Tiba – tiba air mata Sintia jatuh saat membaca surat dari Adit. Dalam suratnya, Adit menuliskan bahwa ia telah divonis dokter terkena penyakit leukemia sejak ia berusia 10 tahun, namun tak ada satu orangpun yang tahu tentang penyakitnya karena ia ingin orang lain menganggapnya sehat sama seperti mereka, ia tidak ingin menjadi beban orang lain karena penyakit yang ia derita. Ia juga berharap agar Sintia bisa lebih kuat daripada dia, karena dia ingin melihat Sintia tersenyum lagi.

Dear, Sintia
Maafkan aku Sin kalo mungkin selama ini aku punya salah sama kamu. Sin, mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, mungkin aku telah pergi untuk selama – lamanya meniggalkan kamu, bapak, teman – teman, dan semua isi dunia ini. Aku sudah lelah Sin, aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini. Saat aku berusia 10 tahun, aku sudah divonis dokter terkena penyakit mematikan yang belum ada obantnya, saat itu aku sangat kecewa dengan keadaanku. Aku marah pada Tuhan yang tidak adil, kenapa aku yang masih kecil dan miskin ini terkena penyakit itu. Aku masih ingin hidup lama seperti anak – anak yang lain, aku ingin memiliki masa depan yang cerah seperti mereka. Namun aku yakin hal itu tidak mungkin terjadi karena penyakit ini sudah pasti merenggut nyawaku dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, aku tak ingin menyia – nyiakan tiap hembusan nafas yang masih Tuhan berikan padaku. Aku tak ingin orang lain tahu tentang penyakitku ini, aku tak ingin membebani mereka dengan apa yang aku derita, aku ingin orang lain memandang aku sehat sama seperti mereka, sehingga aku bisa merasakan indahnya sisa hidupku. Sering aku tertawa dalam tangisan, tersenyum dalam kesakitan, berdiri tegak dalam kelumpuhan kakiku. Berperang melawan penyakitku ini untuk mencoba menutupi semua yang terjadi.  Berharap dengan semangat yang ku miliki aku dapat mengalahkan penyakitku ini, aku telah berhasil mengalahkan penyakitku ini saat aku melihatmu. Kamulah orang yang membuatku tetap semangat untuk hidup. Tiap kali melihat senyummu, aku seperti melihat setitik harapan untuk tetap hidup. Namun kini aku telah menyerah, aku telah kalah, penyakit ini telah berhasil mengalahkan semangatku untuk tetap hidup. Penyakit yang sama dengan apa yang kamu derita sekarang. Ya, Leukimia telah memupuskan harapanku untuk dapat hidup dengan sahabat yang aku sayangi, yaitu kamu. Namun aku berharap meskipun kamu terkena penyakit yang sama dengan aku, kamu harus yakin kalau kamu pasti jauh lebih kuat dari aku. Kamu pasti masih bisa hidup seribu tahun lagi, semangatmu pasti bisa mengalahkan penyakitmu. Tetaplah berjuang sahabat, tunjukkan padaku kalau kamu mampu mengalahkan penyakit yang telah merenggut nyawaku, aku tak ingin kamu dengan mudah menyerah pada Leukimia. Tunjukkan pada Leukimia bahwa kamu bukanlah cewek yang mudah menyerah padanya. Tunjukkan pada Tuhan bahwa kamu memang mampu melewati cobaan yang telah Ia berikan padamu. Tetap tersenyum dan semangat Sahabat. Aku akan selalu mengenangmu dalam peristirahatan terakhirku.
Sahabatmu,
Aditya Pratama

Surat inilah yang telah membuatku kembali semangat untuk menjalani hidup, kenangan – kenagan dengan Aditlah yang membuatku bertahan hidup. Bertahan melawan Leukimia, karena aku masih tetap ingin mengenang Adit dalam hidupku.
“Aku hidup untukmu Sahabatku……” ucapku sebelum aku meninggalkan makam Adit.

0 comments:

Komentar

Topics :